Assalamualaikum!
Kepada yang terhebat dalam segala hal, dirimu.
Izinkan aku untuk menyampaikan beberapa ungkapan lewat tulisan ini
Kau akan ku sebut sebagai bulan
Yang selalu ku idamkan untuk selalu didampingi oleh bintang
Karena ku berharap kelak aku akan menjadi bintang untuk menemanimu
Terutama di kala dingin, gelap dan sunyi
yang sesungguhnya lebih kejam dari hadirnya sapaan matahari.
Aku tak tahu harus memulai nya dari mana
Yang pasti, tiap kata yang tertulis di sini
Ku selipkan dirimu sebagai candu inspirasiku
Tentangmu yang hadir mengalihkan dunia masa kelamku.
Pertemuanku denganmu adalah takdir
Tak pernah setitik pun aku bayangkan sebelumnya
Tak pernah pula aku rencanakan
Rasanya semua masih terasa kebetulan yang masih berlanjut
Kemudian setelah pertemuan, kita menjadi teman
Menurutku, berteman denganmu adalah pilihan terbaik
Berbagi cerita, bertukar pikiran tentang hal-hal yang belum pernah ku temui.
Semua terbuka lebar setelah aku mengenalmu
Bercerita denganmu, membuatku seakan sedang bercermin
Seperti apakah seorang aku di matamu?
Ketahuilah, tidak semua hal bisa ku pahami dengan baik
Seperti halnya aku menghadapi dirimu
Tak mudah aku dapat mengartikan setiap bait yang kau ukir
Siapa sangka bahwa ternyata itu adalah bentuk tersirat
Yang kau alamatkan kepadaku
Rasanya seperti kau tembakkan panah dari busur yang kau milikki
Lalu tertancap tepat di titik yang telah di bidik
Dan ternyata dirimu begitu pandai membuat hati berdecak kagum
Sampai membuat tungkai yang menopang tubuh ini
Tak sanggup lagi bersikap tegak
Cerah dan mendungnya langit kala itu
Ku hiasi dengan selalu mengagumimu, saling bertukar pikiran tentang hal apapun
Membuat hati sedikit demi sedikit tergerak ke arah seharusnya
Lalu racun pun hadir sedikit demi sedikit mulai memasuki otak
Keinginan untuk memilikkimu lebih dari sekarang ini
Bodoh.
Berulang kali ku berdebat dengan diriku sendiri hanya mengenai hal gila ini.
Entah ini adalah sebuah anugerah atau tipu daya setan
Semakin hari semakin kuat meracuni hati dan pikiran
Berulang kali mencoba untuk menahan dan merelakan hati
Tapi apa yang terjadi?
Kau dengan senjatamu berhasil membuatku hampir tak dapat bernapas
Sesak rasanya melihat itu dengan kedua mataku
Sesuatu yang awalnya ku anggap tak mungkin terjadi
Kau buat semua terjadi, dengan meyakinkan
Sedangkan aku menanggapinya dengan bisu dalam keraguan.
Tahukah rasanya menahan sesuatu yang ingin dikatakan namun tak bisa dikatakan?
Mengenalmu, aku belajar bagaimana bersikap mengagumi seseorang yang baik
Namun, sepertinya aku salah mengartikan
Aku terjebak dalam hal mencintai atau mengagumi
Keduanya bagaikan dua sisi mata pisau
Sekali lagi, aku terjebak.
Sc : Novel Garis dan Waktu, Fiersa Besari
Kepada yang terhebat dalam segala hal, dirimu.
Izinkan aku untuk menyampaikan beberapa ungkapan lewat tulisan ini
Kau akan ku sebut sebagai bulan
Yang selalu ku idamkan untuk selalu didampingi oleh bintang
Karena ku berharap kelak aku akan menjadi bintang untuk menemanimu
Terutama di kala dingin, gelap dan sunyi
yang sesungguhnya lebih kejam dari hadirnya sapaan matahari.
Aku tak tahu harus memulai nya dari mana
Yang pasti, tiap kata yang tertulis di sini
Ku selipkan dirimu sebagai candu inspirasiku
Tentangmu yang hadir mengalihkan dunia masa kelamku.
Pertemuanku denganmu adalah takdir
Tak pernah setitik pun aku bayangkan sebelumnya
Tak pernah pula aku rencanakan
Rasanya semua masih terasa kebetulan yang masih berlanjut
Kemudian setelah pertemuan, kita menjadi teman
Menurutku, berteman denganmu adalah pilihan terbaik
Berbagi cerita, bertukar pikiran tentang hal-hal yang belum pernah ku temui.
Semua terbuka lebar setelah aku mengenalmu
Bercerita denganmu, membuatku seakan sedang bercermin
Seperti apakah seorang aku di matamu?
Ketahuilah, tidak semua hal bisa ku pahami dengan baik
Seperti halnya aku menghadapi dirimu
Tak mudah aku dapat mengartikan setiap bait yang kau ukir
Siapa sangka bahwa ternyata itu adalah bentuk tersirat
Yang kau alamatkan kepadaku
Rasanya seperti kau tembakkan panah dari busur yang kau milikki
Lalu tertancap tepat di titik yang telah di bidik
Dan ternyata dirimu begitu pandai membuat hati berdecak kagum
Sampai membuat tungkai yang menopang tubuh ini
Tak sanggup lagi bersikap tegak
Cerah dan mendungnya langit kala itu
Ku hiasi dengan selalu mengagumimu, saling bertukar pikiran tentang hal apapun
Membuat hati sedikit demi sedikit tergerak ke arah seharusnya
Lalu racun pun hadir sedikit demi sedikit mulai memasuki otak
Keinginan untuk memilikkimu lebih dari sekarang ini
Bodoh.
Berulang kali ku berdebat dengan diriku sendiri hanya mengenai hal gila ini.
Entah ini adalah sebuah anugerah atau tipu daya setan
Semakin hari semakin kuat meracuni hati dan pikiran
Berulang kali mencoba untuk menahan dan merelakan hati
Tapi apa yang terjadi?
Kau dengan senjatamu berhasil membuatku hampir tak dapat bernapas
Sesak rasanya melihat itu dengan kedua mataku
Sesuatu yang awalnya ku anggap tak mungkin terjadi
Kau buat semua terjadi, dengan meyakinkan
Sedangkan aku menanggapinya dengan bisu dalam keraguan.
Tahukah rasanya menahan sesuatu yang ingin dikatakan namun tak bisa dikatakan?
Mengenalmu, aku belajar bagaimana bersikap mengagumi seseorang yang baik
Namun, sepertinya aku salah mengartikan
Aku terjebak dalam hal mencintai atau mengagumi
Keduanya bagaikan dua sisi mata pisau
Sekali lagi, aku terjebak.

Komentar
Posting Komentar